Jejak Darah Sang Penerus
Malam itu, Hutan Larangan Ale’ Mali’ tidak sekadar gelap. Ia bagaikan kerongkongan raksasa purba yang siap menelan sumange’¹ siapa saja yang lancang melintas. Angin bertiup wuuuuttt… wuuuuttt…, meliuk di antara celah akar beringin, menimbulkan suara mendesing yang mirip rintihan Poppo² yang kelaparan. Cahaya bulan yang pucat pasi mengintip malu-malu dari balik awan hitam, menyinari lantai hutan yang becek dan berbau amis tanah.
Di balik akar tunjang sebuah pohon raksasa yang mencuat seperti cakar setan, sesosok tubuh muda tampak menggigil.
Sangkuru’ Manggala. Pemuda itu menekan punggungnya rapat-rapat ke kulit pohon yang berlumut licin. Wajahnya yang biasanya Makanja’³ kini pucat sepucat mayat. Napasnya memburu, hosh… hosh…, seirama dengan denyut nyeri yang menghantam batok kepalanya.
Ia memejamkan mata, mencoba mengatur jalan darahnya. Teringat ia akan pappaseng⁴ mendiang gurunya, Puang Lallo: “Tenaga kasar hanya bisa mematahkan kayu, Nak. Tapi ketenangan batin mampu membelah lautan.” Sangkuru’ menarik napas panjang, mencoba menyalurkan hawa murni ke kaki kanannya yang terluka parah.
Luka itu sungguh mengerikan. Betis kanannya robek menganga, hasil sabetan senjata keji bernama Bessi Poka-Poka⁵ yang dilumuri racun Ipuh Tana. Darah kental berwarna merah kehitaman terus merembes, membasahi kain sarung Lipa’ Sa’be⁶ lusuhnya yang kini koyak moyak.
Rasa sakitnya bukan main, seperti ditusuk ribuan jarum api. Namun, rasa sakit di hatinya jauh lebih perih. Dendam atas kematian gurunya membakar dada, membuat siri’ ⁷ dalam dirinya bergolak hebat.
“Keluarko, Tikus Curut! Jangko main sembunyi-sembunyian! Hidungku ini lebih tajam dari kongkong⁸ pelacak!”
Suara itu menggelegar dahsyat, memecah kesunyian malam. Glaaarrr! Getarannya merontokkan daun-daun kering.
Sangkuru’ menahan napas. Suara itu datang dari arah timur. Berat, parau, dan mengandung tenaga dalam kasar yang membuat dada sesak.
Dum… Dum… Dum…
Tanah basah di sekitar persembunyian Sangkuru’ bergetar hebat. Langkah kaki itu berat laksana tedong⁹ jantan yang sedang mengamuk. Dari balik kegelapan, muncul sesosok bayangan raksasa yang membuat nyali orang biasa langsung ciut.
Tingginya hampir dua tombak. Tubuhnya gempal, dibungkus baju zirah dari kulit anoa tebal yang dipasangi lempengan besi kasar. Wajahnya tertutup topeng besi berkarat, hanya menyisakan sepasang mata yang merah menyala seperti bara api neraka. Di tangan kanannya, ia menyeret sebuah gada besi hitam—Palu Godam Raksasa—yang besarnya seukuran gentong air.
Inilah Barata! Si Jagal dari Lembah Tengkorak. Manusia kasar yang otaknya mungkin hanya sebesar biji kemiri, tapi tenaganya sanggup merobohkan benteng batu.
“Kuciummi bau darahnu yang amis, Anak Muda…” Barata terkekeh. Suaranya serak seperti parutan kelapa digesekkan ke batu cadas. “Sayang sekali wajah halusmu itu harus hancur malam ini. Padahal kepala utuhmu dihargai seribu keping emas oleh Puang Barakkang. Tapi tak apalah, hancur sedikit pun masih lakuji!”
Sangkuru’ membuka matanya. Firasatnya mengatakan tak ada gunanya lagi bersembunyi.
“Mulutmu besar, tapi nyalimu sebesar biji sawi, Barata!” Sangkuru’ berseru lantang, suaranya mengandung wibawa meski tubuhnya lemah. Ia sengaja memancing emosi lawan. “Kau cuma kacung penjilat pantat Barakkang. Berapa hutang judi sabung ayammu kali ini? Sampai-sampai kau mau disuruh masuk ke hutan keramat ini, hah?!”
Barata berhenti melangkah. Hinaan itu telak mengenai sasaran. Bahunya yang lebar bergetar menahan amarah siri’ yang terusik.
“Telaso¹⁰! Kau bosan hidup rupanya!” raung Barata.
Tanpa aba-aba, raksasa itu menghentakkan kakinya. Tubuhnya yang besar melesat ke depan dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi tubuh segemuk itu. Gada besinya berputar, menimbulkan angin puyuh hitam yang menderu-deru.
Wuuuttt!
“Matiko!”
Barata menghantamkan gadanya ke arah pohon tempat Sangkuru’ bersembunyi. Serangan itu tidak main-main, dilambari tenaga dalam Batu Karang Pecah.
BLAAARRR!
Suaranya seperti ledakan meriam. Pohon beringin sebesar pelukan tiga orang dewasa itu hancur berantakan. Serpihan kayu tajam muncrat ke segala arah. Sungguh mengerikan tenaga si Jagal ini!
Namun, Sangkuru’ sudah tidak di sana.
Sesaat sebelum gada menghantam, Sangkuru’ telah melentingkan tubuhnya ke udara menggunakan aji Walet Menembus Awan. Tubuhnya berputar di udara, ringan bagai kapas, lalu mendarat manis tiga tombak di belakang Barata dengan kuda-kuda Passila’¹¹ yang kokoh. Meski begitu, pendaratan itu membuat luka di betisnya menjerit kesakitan.
“Ukh!” Sangkuru’ meringis. Tangan kanannya meraba hulu kawali¹² di pinggangnya. Pusaka bernama Kawali Pallipu Alang.
Barata membalikkan badan. Topeng besinya tampak menyeringai di balik bayangan. “Lincahki juga tawwa, monyet kecil. Gerakannu mengingatkanku pada si Tua Bangka Puang Lallo. Guru yang malang, mati konyol di bengkel pandai besinya sendiri karena terlalu lemah!”
Darah Sangkuru’ mendidih. Wajah gurunya yang bijak terbayang di pelupuk mata. Rasa sedih dan amarah bercampur aduk, menciptakan gelombang tenaga panas di dadanya.
“Jaga mulut busuknu, Setan Alas!” bentak Sangkuru’. “Guruku mati demi menjaga kehormatan! Tidak seperti kau yang hidup sebagai budak harta!”
“Terhormat? Cuih!” Barata meludah. “Di dunia persilatan, kekuatan adalah raja! Lihatmi ini!”
Barata kembali menyerang. Kali ini ia mengeluarkan jurus andalannya: Tedong Gila Mengamuk. Gadanya diputar membentuk perisai kematian, menyapu apa saja yang ada di depannya. Setiap ayunan gada mengeluarkan suara wung… wung… wung… yang memekakkan telinga.
Sangkuru’ terdesak hebat. Ia terus mundur, menangkis angin pukulan dengan langkah-langkah Langkah Seribu Bayangan. Namun, punggungnya kini menabrak dinding tebing batu cadas yang dingin. Jalan buntu!
Celaka dua belas! Di atasnya, tebing itu menjorok keluar membentuk atap gua. Di depannya, maut berbentuk putaran gada besi makin mendekat.
“Hahahaha! Habismi riwayatnu!” tawa Barata menggelegar, merasa di atas angin.
Sangkuru’ tahu, menangkis gada itu dengan kawali kecilnya sama saja bunuh diri. Tulang tangannya akan remuk seketika jadi tepung. Dalam situasi genting antara hidup dan mati, batin Sangkuru’ justru menjadi hening. Matanya yang tajam menyapu sekeliling.
Pandangannya terkunci pada langit-langit gua batu di atas kepala Barata.
Di sana, sebuah batu runcing alami menggantung goyah. Pangkal batu itu retak, hanya ditahan oleh jalinan akar pohon beringin yang menembus atap gua. Akar itu tegang, tertarik lurus seperti tali busur yang siap putus.
Sangkuru’ teringat petuah gurunya:
“Besi terkeras pun punya titik lemah, Sangkuru’. Jangan lawan keras dengan keras. Pinjamlah kekuatan alam, biarkan musuhmu hancur oleh keangkuhannya sendiri.”
Barata sudah berada dalam jarak serang. Gada itu terangkat tinggi, siap meremukkan kepala Sangkuru’ menjadi bubur. Ujung gada itu tampak berpijar merah, tanda hawa panas yang dahsyat.
“Matiko!”
Di detik yang sangat menentukan, Sangkuru’ tidak menangkis. Ia justru menjatuhkan dirinya ke tanah dalam posisi telentang, lalu dengan sisa tenaga terakhir, ia mencabut kawali-nya.
Sringgg!
Cahaya perak berkilau menyilaukan mata. Bukan ditusukkan ke perut Barata, badik itu dilempar tegak lurus ke atas dengan pengerahan tenaga batin tingkat tinggi!
Wuuuttt… Crappp!
Bilah Kawali Pallipu Alang yang tajam luar biasa itu memotong simpul akar penahan batu di langit-langit gua.
KRAAAK!
Bunyi patahan itu terdengar lebih nyaring dari petir.
Barata mendongak kaget, “Hah?!”
Terlambat sudah. Batu runcing seberat dua tedong itu terlepas dari gantungannya. Kodrat alam mengambil alih.
BLAAAMM!
Bumi bergoncang laksana gempa. Debu kapur putih mengepul pekat menutupi pandangan.
Terdengar suara tulang remuk yang bikin ngilu. Krek! Diikuti teriakan pendek yang tertahan. Lalu sunyi. Senyap. Hanya ada suara napas Sangkuru’ yang tersengal-sengal.
Ketika debu perlahan menipis, tersingkaplah pemandangan mengerikan. Barata si Jagal tertelungkup di tanah. Setengah badannya, dari pinggang ke atas, tertimpa batu raksasa itu. Gada besinya terlempar jauh, bengkok tak berbentuk. Darah segar mengalir deras, membentuk genangan merah di sekitar batu. Tamatlah riwayat pendekar sesat itu dengan cara yang mengenaskan.
Sangkuru’ terbatuk-batuk, merangkak menjauh dari debu kapur. Ia nyaris saja ikut tertimbun jika tidak berguling cepat ke samping.
Ia mendekati mayat musuhnya. Bukan untuk merampok, tapi untuk mengambil kembali pusakanya yang tertancap pada sisa akar yang jatuh.
Sinar bulan menimpa bilah kawali itu. Pamor pada besinya berkilau aneh, seolah menyerap darah yang ada di sekitarnya. Di sana, guratan lontara kuno terlihat samar di sela-sela lipatan besi:
“Tene’ki lalo teppole, mali’ki lalo tenriajang.”
(Hanyutlah dalam arus yang tak melawan, namun jangan tenggelam. Mengalirlah tanpa diperintah.)
Sangkuru’ menyeka keringat dingin di dahinya. Hatinya bergetar merenungi makna tulisan itu. Kemenangan ini bukan karena kekuatannya, melainkan karena kecerdikan dan kerendahan hati untuk “mengalir” mengikuti keadaan.
“Kurru’ sumange’¹³, Puang Guru,” bisiknya lirih.
Ia menyarungkan kawali itu. Klek!
Namun, penderitaan pemuda itu belum berakhir. Hutan Ale’ Mali’ masih menyimpan ribuan mata yang mengintai. Dengan langkah terpincang-pincang menahan perih racun yang mulai menjalar, Sangkuru’ menyeret kakinya ke arah selatan, menembus pekatnya malam.
Jejak darahnya tertinggal di belakang, menjadi undangan pesta bagi pemangsa berikutnya.
Catatan Kaki:
- Sumange’: Semangat hidup atau jiwa/sukma dalam kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar.
- Poppo: Hantu atau manusia yang mengamalkan ilmu hitam, bisa terbang di malam hari dan mengeluarkan suara ‘pok-pok’ untuk mencari mangsa (biasanya orang sakit atau wanita melahirkan).
- Makanja’: Tampan atau gagah (Bahasa Bugis).
- Pappaseng: Pesan, wasiat, atau nasihat leluhur yang mengandung nilai moral.
- Bessi Poka-Poka: Senjata besi yang bergerigi atau beruas.
- Lipa’ Sa’be: Sarung sutra khas Sulawesi Selatan.
- Siri’: Konsep harga diri, kehormatan, dan rasa malu yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Bugis-Makassar.
- Kongkong: Anjing (Bahasa Makassar).
- Tedong: Kerbau (Bahasa Toraja/Bugis).
- Telaso: Umpatan kasar khas Sulawesi Selatan (secara harfiah berarti kotoran), sering digunakan untuk memaki.
- Passila’: Pesilat atau gaya bersilat.
- Kawali: Badik; senjata tajam tradisional khas Bugis-Makassar berbentuk runcing dan pipih.
- Kurru’ sumange’: Ungkapan rasa syukur atau seruan untuk memanggil/menguatkan semangat.
- Nu : Mu (Busuknu = Busukumu)


Leave A Comment